Pages

 
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Penyakit Hidung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Penyakit Hidung. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Benda Asing di Hidung

0 komentar
Sering terjadi pada anak-anak 2-4 tahun atau pasien dengan mental yang terbelakang.

A. Manifestasi Klinis
Hidung tersumbat oleh sekret mukopuru1en yang banyak dan berbau busuk di satu sisi rongga hidung, kanan atau kiri, tempat adanya benda asing. Setelah sekret hidung dihisap, benda asing akan tampak dalam kavum nasi. Kadang disertai rasa nyeri, demam, epistaksis, dan bersin. Pada pemeriksaan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi.

Bila benda asing tersebut adalah binatang lintah, terdapat epistaksis berulang yang sulit berhenti meskipun sudah diberikan koagulan. Pada rinoskopi anterior tampak benda asing berwama coklat tua, lunak pada perabaan, dan melekat erat pada mukosa hidung atau nasofaring.

B. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan radiologi untuk benda asing radioopak yang tidak jelas pada rinoskopi anterior.

C. Penatalaksanaan
Benda asing dengan permukaan kasar dapat dikeluarkan memakai forsep. Bila benda asing bulat dan licin, misalnya manik-manik, dipergunakan pengait yang ujungnya tumpul. Bagian pengait yang bengkok dimasukkan ke dalam hidung bagian atas menyusuri atap kavum nasi, sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit, sampai ke belakang obyek, kemudian ditarik ke depan. Dapat dipakai cunam Nortman atau wire loop. Bila tidak ada alat yang sesuai sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau ahli THT.

Untuk lintah, diteteskan dulu air tembakau agar terlepas dari mukosa hidung atau nasofaring, kemudian dijepit dengan pinset dan tarik ke luar.

Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya bila ada infeksi hidung dan sinus.

Tidak dianjurkan mendorong ke arah nasofaring dengan tujuan agar masuk ke mulut, karena dapat terus masuk ke laring dan saluran napas bawah, sehingga timbul sesak napas dan kegawatan.

D. Komplikasi
Usaha mengeluarkan dengan alat yang tidak sesuai dapat mendorong benda asing ke belakang dan jika masuk ke saluran napas akan membahayakan.
Read more...

Trauma Maksila

0 komentar
A. Manifestasi Klinis
Trauma yang paling serius melibatkan wajah dan mempunyai gejala khas berupa perubahan letak palatum, deformitas atau mobilitas hidung, epistaksis, atau perubahan/ deformitas sepertiga tengah muka.
Digunakan klasifikasi Le Fort untuk membantu diagnosis dan penatalaksanaannya:
Le Fort I : Trauma terbatas pada alveolus kiri, kanan, atau bilateral.
Le Fort II : Trauma piramid os maksila, hidung, zigoma; terjadi pemisahan bagian tengah muka dengan tulang kranium.
Le Fort IlI : Trauma mengenai tulang maksila, hidung, zigoma, orbita; terjadi pemisahan seluruh tulang muka dengan basis kranii.

Pada tempat trauma ditemukan edema, hematoma, laserasi, luka robek, epistaksis, perdarahan dari mulut, telinga, deformitas, paresis nervus fasialis, muka/pipi lebih mendatar, serta maloklusi. Pada perabaan ada rasa nyeri, krepitasi, diskontinuitas, pergeseran struktur tulang, dan kerangka tulang yang mudah digerakkan.

B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi dalam posisi lateral dan Waters untuk melihat garis struktur dan posisi tulang-tulang maksila. Pemeriksaan tomografi komputer tiga dimensi untuk melihat posisi fragmen fraktur tulang serta perencanaan rekonstruksi.

C. Penatalaksanaan
Perhatikan kesadaran pasien secara teliti dan dipertahankan sampai stabil. Semua laserasi jaringan lunak dieksplorasi apakah ada fraktur atau kelanjutan trauma ke organ lain. Benda asing dikeluarkan dan dilakukan debridemen. Tulang yang fraktur direposisi dan difiksasi.
Read more...

Trauma Hidung

0 komentar
Berdasarkan waktu, trauma hidung terbagi atas trauma baru, di mana kalus belum terbentuk sempurna, dan trauma lama, bila kalus sudah mengeras (biasanya pada akhir minggu kedua setelah trauma).

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar, disebut trauma terbuka bila kulit hidung terluka dan terdapat hubungan dengan dunia luar, dan trauma tertutup bila kulit di tempat trauma utuh.

Arah trauma harus diperhatikan karena akan menyebabkan kelainan yang berbeda. Dari lateral, bila ringan akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral, sedangkan bila cukup keras akan menyebabkan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Dari frontal, dapat terjadi open book fracture dan fraktur serta terlipatnya septum nasi. Dari inferior, dapat timbul fraktur dan dislokasi septum nasi. Berdasarkan lokasi, terbagi atas dorsum nasi atau frontal etmoid.

A. Manifestasi Klinis
Dilakukan pemeriksaan kulit serta struktur hidung dan kavum nasi untuk mengungkapkan adanya deformitas, deviasi, ataupun kelainan bentuk. Pada tempat trauma akan tampak edema, ekimosis, hematom, laserasi, luka robek, atau perdarahan berupa bekuan darah ataupun hematom septum nasi. Pada palpasi fraktur terdapat krepitasi, deformitas, angulasi, dan nyeri.

B. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaaan radiologi posisi anteroposterior dan lateral, namun tidak semua garis fraktur dapat terlihat.

C. Komplikasi
Komplikasi segera yang bersifat sementara yaitu, edema, ekimosis, epistaksis, dan hematom.

Komplikasi lambat yang dapat terjadi adalah infeksi, obstruksi hidung, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obstruksi duktus nasolakrimalis, dan perforasi septum.

D. Penatalaksanaan
Sebagai tindakan penyelamat, mula-mula jalan napas harus dibebaskan dari semua sumbatan, kalau perlu intubasi atau trakeostomi. Bila syok, segera atasi dengan infus. Perdarahan harus segera ditanggulangi. Untuk mempertahankan fungsi hidung dan mencegah komplikasi, dilakukan reposisi hidung dengan anestesi lokal atau umum.

Prinsipnya reposisi dilakukan segera bila keadaan umum memungkinkan. Pada trauma hidung terbuka, perlu dilakukan eksplorasi di tempat luka. Fragmen tulang yang fraktur disusun kembali dan dilakukan fiksasi dengan kawat.

Pada kasus trauma frontoetmoid, walaupun tertutup, dilakukan eksplorasi supaya dapat menyusun kembali fragrnen tulang yang fraktur, kemudian dilakukan fiksasi antar tulang. Kasus ini sering disertai fraktur dasar orbita, sehingga terdapat diplopia.

Pada trauma hidung tertutup, dengan adanya edema dan hematoma yang luas, kadang diagnosis fraktur dan posisi fragmen tulang sulit ditegakkan. Sebaiknya ditunggu sampai akhir minggu pertama sehingga deformitas akan lebih jelas terlihat. Kemudian reposisi dilakukan secara tertutup, dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu karena jika kalus sudah mengeras akan sukar direposisi. Reposisi septum dilakukan dengan cunam Ashe, untuk menggeser septum yang fraktur atau dislokasi ke garis median. Untuk melakukan reposisi prosesus frontalis os maksila dan os nasal dipakai cunam Walsham. Setelah yakin bentuknya baik dan berada di median, dilakukan fiksasi di dalam rongga hidung memakai tampon dan di atas hidung dipasang gips. Pada fraktur lama di mana kalus sudah mengeras, perlu dilakukan osteotomi dan dirujuk ke ahli THT.

Meskipun kelainan hidung ringan saja namun mudah terlihat, sehingga hal ini akan mempengaruhi keadaan psikis pasien. Untuk tujuan estetis, perlu dilakukan operasi untuk psikoterapi.
Read more...

Polip Hidung

0 komentar
Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga hidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid, multipel, dan bilateral. Biasanya pada orang dewasa. Pada anak mungkin merupakan gejala kistik fibrosis.

Polip koana adalah polip hidung yang berasal dari sinus maksila yang keluar melalui rongga hidung dan membesar di koana dan nasofaring.

A. Etiologi
Terjadi akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung.

B. Faktor Predisposisi
Alergi, sinusitis kronik, iritasi, sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi sep­tum dan hipertrofi konka.

C. Patofisiologi
Mukosa hidung membengkak, terisi banyak cairan interselular dan sel radang, kemudian terdorong ke dalam rongga hidung oleh gaya berat.

D. Manifestasi Klinis
Sumbatan hidung yang menetap dan senakin lama semakin berat dan rinorea. Dapat terjadi hiposmia atau anosmia. Bila menyumbat ostium, dapat terjadi sinusitis dengan ingus purulen. Karena disebabkan alergi, gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.

Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning kemerahan dalam kavum nasi. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak nyeri bila ditekan, tidak mudah berdarah, dan tidak mengecil pada pemakaian vasokonstriktor.

E. Diagnosis Banding
Konka polipoid.

F. Penatalaksanaan
Bila polip masih kecil, dapat diobati secara konservatif dengan kortikosteroid sistemik atau oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari kemudian diturunkan perlahan. Secara lokal dapat disuntikkan ke dalam polip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 ml tiap 5-7 hari sekali sampai hilang. Dapat dipakai secara topikal sebagai semprot hidung, misalnya beklometason dipropionat. Bila sudah besar, dilakukan ekstraksi polip dengan senar. Bila berulang-ulang dapat dirujuk untuk operasi etmoidektomi intranasal atau ekstranasal.

Pengobatan juga perlu ditujukan pada penyebabnya, dengan menghindari alergen penyebab.

G. Prognosis
Cenderung berulang.
Read more...

Deviasi Septum

0 komentar
Septum nasi yang tidak terletak lurus di tengah rongga hidung. Bila cukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung sehingga fungsi hidung terganggu.

A. Etiologi
Trauma atau ketidakseimbangan pertumbuhan.

B. Manifestasi Klinis
Keluhan tersering adalah sumbatan hidung yang menetap, bisa unilateral atau bilateral, dan bertambah berat bila terserang flu atau rinitis. Pada sisi deviasi terdapat konka hipotrofi, sedangkan sebelahnya terjadi konka hipertrofi akibat kompensasi. Nyeri kepala dan sekitar mata, epistaksis, serta gangguan penciuman. Bila menyumbat ostium sinus, dapat terjadi sinusitis.

Pada pemeriksaan terlihat rongga hidung tidak sama besarnya antara kanan dan kiri. Dapat ditemukan deviasi berbentuk C atau S, dislokasi, penonjolan tulang atau rawan septum berbentuk krista atau spina, atau perlekatan (sinekia).

C. Penatalaksanaan
Bila tanpa gejala atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dikoreksi. Jika keluhannya nyata dapat dirujuk untuk dilakukan reseksi submukosa atau septoplasti (reposisi septum).
Read more...

Minggu, 08 Mei 2011

Hipertrofi Adenoid

0 komentar
Hipertrofi adenoid adalah pembesaran jaringan limfoid pada dinding posterior nasofaring dan termasuk dalam cincin Waldeyer. Seharusnya kelenjar ini mengalami resolusi spontan sehingga menghilang pada usia 18-20 tahun.

A. Manifestasi Klinis
Akibat dari hipertrofi akan timbul sumbatan koana, sumbatan tuba Eustachius, serta gejala umum. Akibat sumbatan koana, pasien akan bernapas melalui mulut, sehingga terjadi fasies adenoid (hidung kecil, gigi insisivus ke depan, arkus faring tinggi, dan pasien tampak seperti orang bodoh), faringitis, bronkitis, gangguan ventilasi dan drainase sinus paranasal sehingga terjadi sinusitis kronik.

Akibat sumbatan tuba Eutachius, terjadi otitis media akut residif, otitis media kronik, dan ketulian. Gejala urnum yang terjadi adalah obstruksi saluran napas atas, gangguan tidur, tidur ngorok, retardasi mental, dan pertumbuhan fisik kurang.

Pada rinoskopi anterior terlihat tertahannya gerak velum palatum mole pada waktu fonasi. Dapat dilakukan pemeriksaan foto tengkorak lateral. Pada anak sukar dilakukan rinoskopi posterior, sehingga dapat dikerjakan pemeriksaan digital berupa perabaan daerah nasofaring dengan jari. Akibat pemeriksaan mungkin anak akan muntah.

B. Komplikasi
Kor pulmonal.

C. Penatalaksanaan
Terapi bedah berupa adenoidektomi dengan cara kuretase memakai adenotom. Komplikasinya adalah perdarahan dan tuli konduktif, atau perdarahan bila kuretase kurang bersih.

Indikasi adenoidektomi :
o Obstruksi saluran napas atas dengan akibat gangguan tidur, kor pulmonal, atau sindrom apnea tidur.
o Nasofaringitis purulen kronik meski telah diobati adekuat.
o Adenoiditis kronik atau hipertrofi adenoid dengan efusi telinga tengah yang menetap atau aktif.
o Otitis media supuratif akut rekurens yang tidak bereaksi dengan antibiotik profilaksis.
o Kasus-kasus tertentu dari otitis media supuratif kronik pada anak-anak dengan hipertrofi adenoid.
o Kecurigaan adanya keganasan nasofaring.
Read more...

Angiofibroma Nasofaring Belia

0 komentar
Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak, secara klinis bersifat ganas karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya, serta sangat mudah berdarah dan sulit dihentikan. Jarang ditemukan dan diperkirakan hanya 0,05% dari tumor leher dan kepala.

A. Etiologi
Belum jelas. Ada dua teori yaitu teori jaringan asal dan teori ketidakseimbangan hor­monal.

B. Manifestasi Klinis
Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. Timbul rinorea kronik diikuti gangguan penciuman, rinolalia, dan anosmia. Tuli atau otalgia akibat okulasi pada tuba Eustachius, dan dapat terjadi otitis media. Sefalgia hebat terjadi bila tumor sudah meluas ke intrakranial. Dapat pula menyebabkan deformitas pada muka, disfagi, proptosis, dan gangguan visus.

Pada rinoskopi posterior terlihat massa tumor dengan konsistensi kenyal, warna bervariasi dari abu-abu sampai merah muda.

C. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan radiologi konvensional (foto kepala potongan antero-posterior, lateral, dan posisi Waters), tomografi komputer, dan pemeriksaan arteriografi. Gambaran khasnya adalah tanda Holman Miller, yaitu pendorongan prosesus pterigoideus ke belakang, sehingga fisura pterigopalatina melebar. Arteriografi untuk metihat vaskularisasi tumor biasanya dilakukan sekaligus dengan embolisasi praoperasi.

Biopsi merupakan kontraindikasi sebab akan menyebabkan perdarahan masif.

Derajat perluasan tumor :
Stadium I Tumor di nasofaring
Stadium II Tumor meluas ke rongga hidung dan atau ke sinus sfenoid.
Stadium III Tumor meluas ke salah satu atau lebih dari sinus maksila dan etmoid, fossa pterigomaksila dan infratemporal, rongga mata dan atau pipi.
Stadium IV Tumor meluas ke rongga intrakranial.

D. Penatalaksanaan
Perbaiki keadaan umum, misalnya melalui transfusi atau pemasangan tampon hidung. Operasi adalah pilihan utama, selain radioterapi dan terapi hormonal yang hasilnya masih kontroversial. Pendekatan operasi dilakukan sesuai lokasi tumor dan perluasannya.
Read more...

Karsinoma Nasofaring

0 komentar
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. Merupakan tumor daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Diagnosis dini cukup sulit karena letaknya yang tersembunyi dan berhubungan dengan banyak daerah vital.

A. Etiologi
Sudah hampir dipastikan disebabkan oleh virus Epstein Barr. Faktor ras, letak geografis, jenis kelamin (laki-laki), faktor lingkungan (iritasi bahan kimia, kebiasaan memasak dengan bahan/bumbu masakan tertentu, asap sejenis kayu tertentu), dan faktor genetik juga mempengaruhi.

B. Manifestasi Klinis
Gejala dibagi dalam 4 kelompok.
1.  Gejala nasofaring sendiri, berupa epistaksis ringan, pilek, atau sumbatan hidung.
2.  Gejala telinga, berupa tinitus, rasa tidak nyaman sampai nyeri di telinga.
3. Gejala saraf, berupa gangguan saraf otak, seperti diplopia, parestesia daerah pipi, neuralgia trigeminal, paresis/paralisis arkus faring, kelumpuhan otot bahu, dan sering tersedak.
4.  Gejala atau metastasis di leher, berupa benjolan di leher.

C. Komplikasi
Metastasis jauh ke tulang, hati, dan paru dengan gejala khas nyeri pada tulang, batuk-­batuk, dan gangguan fungsi hati.

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral, dan Waters menunjukkan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar tengkorak memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fosa serebri media. Dapat pula dilakukan tomografi komputer daerah kepala dan leher serta pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA.

Diagnosis pasti dilakukan dengan biopsi dari hidung atau mulut. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal, dan lain-lain dilakukan untuk mendeteksi metastasis.

E. Penatalaksanaan
Pengobatan utama adalah radioterapi. Sebagai tambahan dapat dilakukan diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin, dan anti virus. Sebagai terapi ajuvan terbaik adalah kemoterapi dengan kombinasi Sis-platinum sebagai inti. Diseksi leher radikal dilakukan bila benjolan di leher tidak menghilang dengan radiasi atau timbul kembali, dengan syarat tumor induknya sudah hilang.

F. Perawatan Paliatif
Rasa kering di mulut dapat terjadi sampai berbulan-bulan pascaradiasi akibat kerusakan kelenjar liur. Disarankan untuk makan banyak kuah, membawa minuman ke mana pun pergi, serta mencoba memakan dan mengunyah bahan asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Dapat juga terjadi mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku di leher karena fibrosis, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, muntah, atau mual.

Pascapengobatan dapat pula timbul metastasis jauh pascapengobatan ke tulang, paru, hati, dan otak.

Pada keadaan tumor residif tidak banyak tindakan medis yang dapat dilakukan selain simtomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

G. Pencegahan
Dapat dilakukan vaksinasi (masih dalam percobaan), migrasi penduduk, mengubah kebiasaan hidup yang salah, dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan faktor penyebab.
Read more...

Tumor Sinus Ganas

0 komentar
Tumor Sinus Ganas yang sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa, kemudian karsinoma anaplastik dan tumor yang berasal dari kelenjar. Lokasi tersering adalah sinus maksila, sinus etmoid, dan hidung. Tumor ganas di daerah ini relatif jarang bermetastasis ke kelenjar leher atau melalui darah.

A. Etiologi
Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui. Rokok diduga berhubungan dengan timbulnya penyakit ini. Faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab:
o Infeksi kronik hidung dan sinus paranasal
o Kontak dengan debu kayu pada pekerja mebel
o Kontak dengan bahan industri, seperti nikel, krom, gas mustard, dan isopropanolol
o Thorium dioksida yang dipakai sebagai cairan kontras pada pemeriksaan rontgen sinus maksila.

B. Manifestasi Klinis
Gejala tergantung asal tumor primer serta arah dan luas penyebaran tumor. Tumor jinak dan gejala dini tumor ganas dapat menyerupai rinitis dan sinusitis kronik.

Gejala dini menyerupai rino sinusitis kronik. Di dalam rongga hidung tumor menyebabkan gejala hidung, tersumbat dan epistaksis. Terdapat rinorea unilateral yang menetap. Bila sangat besar, tulang hidung akan terdesak sehingga bentuk hidung berubah. Bila meluas ke sinus etmoid atau lamina kribrosa, menimbulkan nyeri daerah frontal. Bila meluas ke orbita, menyebabkan proptosis, nyeri orbita, dan diplopia, mungkin teraba massa di orbita. Tumor yang meluas ke nasofaring dapat menyebabkan tuli konduktif akibat gangguan tuba Eustachius.

Di dalam sinus maksila, tumor biasanya tidak bergejala sampai meluas ke organ lain. Dapat menyebabkan rasa nyeri pada gigi atas, gigi goyah, gangguan oklusi atau pembengkakan dan laserasi di daerah palatum. Tumor ganas sinus maksila umumnya membuat deformitas dan asimetri pipi kanan dan kiri serta nyeri. Gejala pada hidung berupa sumbatan, epistaksis ringan, dan sekret hidung kental pada tumor jinak, sedangkan pada tumor ganas diikuti ingus berbau dan rasa nyeri. Gejala pada rongga mulut berupa nyeri gigi, gusi, gigi goyah, dan sebagainya. Gejala mata jarang terjadi.

Pada tumor di sinus etmoid, gejala mata adalah muncul setelah gejala hidung. Hanya sedikit terjadi deformitas muka. Tumor sinus frontal cenderung hanya memberikan gejala pada mata saja, sedangkan pada sinus sfenoid, umumnya memberikan gejala neurologik.

Dicari adanya massa di kavum nasi dan apakah dinding lateralnya terdorong ke me­dial. Perhatikan asimetri atau gigi goyah dan dengan palpasi cari nyeri tekan gigi rahang atas dan palatum. Dari rinoskopi posterior dilihat apakah ada massa di koana dan nasofaring. Obstruksi tuba Eustachius dicari. Periksa daerah pipi dan sulkus gingivobukal, apakah ada massa atau gangguan nervus infraorbitalis.

Kemungkinan kelainan saraf otak dan pembesaran kelenjar leher dicari.

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto sinus paranasal dan paru untuk melihat adanya metastasis. Dilakukan foto polos dengan posisi Caldwell, Waters, lateral, dan submentovertikal. Dicari gambaran perselubungan sinus, massa jaringan lunak, sklerosis dinding sinus, dan destruksi tulang. Dengan tomogram dapat terlihat jelas perluasan tumor dan destruksi tulang. Tomografi komputer dapat menunjukkan perluasan kejaringan lunak dan intrakranial.

Biopsi untuk diagnosis pasti dapat dilakukan melalui sinoskopi.

D. Penatalaksanaan
Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi sebersih mungkin. Pada tumor ganas terapi merupakan kombinasi operasi, radioterapi (sesudah atau sebelum operasi) dan kemoterapi. Kadang-kadang setelah operasi diperlukan rekonstruksi dengan protese (bedah plastik) dan rehabilitasi.
Read more...

Sabtu, 07 Mei 2011

Tumor Hidung dan Sinus Paranasal

0 komentar
Tumor Hidung dan Sinus Paranasal sering ditemukan namun jarang yang ganas. Tumor jinak di kavum nasi dan sinus paranasal seringkali secara klinis bersifat destruktif ke jaringan sekitarnya, sehingga perlu penanganan seperti pada tumor ganas. Yang sering ditemukan adalah papiloma.

A. Manifestasi Klinis
Secara makroskopis mirip polip nasi, hanya lebih keras, padat, dan tidak mengikat. Ada 2 jenis, eksofitik dan endofitik (papiloma inversi). Yang terakhir bersifat sangat invasif dapat merusak tulang dan jaringan lunak di sekitarnya, diduga dapat berubah menjadi ganas.

Umumnya tumbuh pada dinding lateral hidung dan cenderung residif setempat.

B. Penatalaksanaan
Pembedahan luas. Jika ada yang tertinggal dapat residif. Radiasi dapat mengecilkan tumor tapi tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan potensi tumor menjadi ganas.
Read more...

Rinitis Alergi Sepanjang Tahun (Perennial)

0 komentar
Rinitis alergi adalah penyakit/kelainan yang merupakan manifestasi klinis reaksi hipersensitivitas tipe I (Gell & Coombs) dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran.
Berdasarkan sifat berlangsungnya, rinitis alergi dibedakan atas :
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis). Hanya ada di negara yang memiliki 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepungsari dan spora jamur.
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
Gejala keduanya hampir sama, hanya sifat berlangsungnya yang berbeda.

Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus-menerus atau intermiten. Meskipun lebih ringan dibandingkan rinitis musiman, tapi karena lebih persisten, komplikasinya lebih sering ditemukan. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan dewasa muda, namun berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter berperan, sedangkan jenis kelamin, golongan etnis, dan ras tidak berpengaruh.

A. Etiologi
Penyebab tersering adalah alergen inhalan (dewasa) dan ingestan (anak-anak). Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan.

Diperberat oleh faktor nonspesifik, seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca, dan kelembaban yang tinggi.

B. Patofisiologi
Pada reaksi alergi ini dilepaskan berbagai zat mediator yang akan menimbulkan gejala klinis. Zat mediator utama dan terpenting adalah histamin yang memiliki efek dilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris, dan aktivasi sel-sel kelenjar sehingga sekret diproduksi lebih banyak.

C. Diagnosis Banding
Rinitis nonalergi, rinitis infeksi, dan common cold.

D. Manifestasi Klinis
Serangan bersin berulang lebih dari lima kali dalam satu serangan. Rinorea yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, kadang disertai lakrimasi. Tidak ada demam. Gejala sering tidak lengkap.

Gejala spesifik lain pada anak-anak bila penyakit telah berlangsung lama (>2 tahun) adalah bayangan gelap di daerah bawah mata (allergie shiner) akibat stasis vena sekunder karena obstruksi hidung. Anak sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute). Lama-lama akan mengakibatkan timbul garis melintang di dorsum nasi sepertiga bawah (allergic crease).

Sering disertai penyakit alergi lainnya seperti asma, urtikaria, atau eksim.

Pada rinoskopi anterior didapatkan mukosa edema, basah, pucat atau livid, disertai banyak sekret encer. Di luar serangan, mukosa kembali normal, kecuali bila telah berlangsung lama.

E. Komplikasi
Polip hidung, otitis media, dan sinusitis paranasal.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan sitologi hidung sebagai pemeriksaan penyaring atau pelengkap. Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan, basofil kemungkinan alergi ingestan, dan sel polimorfonuklear menunjukkan infeksi bakteri.

Pada pemeriksaan darah tepi, hitung eosinofil dan IgE total serum dapat normal atau meningkat.

Yang lebih bermakna tes IgE spesifik dengan RAST (radio immunosorbent test) atau ELISA (enzyme linked immuno assay).

Dapat juga dicari secara in vivo dengan uji intrakutan yang tunggal atau berseri, uji tusuk (prick test), uji provokasi hidung/uji inhalasi, dan uji gores. Dilakukan diet eliminasi dan provokasi untuk alergi makanan.

G. Penatalaksanaan
Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi.

Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau lokal. Preparat yang dipakai adalah agonis alfa adrenoseptor, terutama untuk mengatasi sumbatan hidung. Diberikan peroral, biasanya dalam kombinasi dengan antihistamin seperti pseudoefedrin fenilpropanolamin. Pemberian topikal harus hemat dan jangka pendek (4-10 hari). Efek kortikosteroid baru terasa setelah pemakaian agak lama. Pemakaian topikal dengan preparat baru, seperti beklometason, flunisolid dan budesonid untuk jangka panjang cukup aman. Pernakaian peroral dengan pemberian intermiten atau tapering off hanya untuk kasus berat, diberikan 2 minggu sebelum pemberian topikal agar pemberian topikal efektif.

Dapat diberikan natrium kromolat dalam bentuk inhalasi untuk pencegahan.

Untuk hipertrofi konka, pasien harus dirujuk agar dapat dilakukan kauterisasi konka inferior dengan nitras argenti atau triklor asetat. Jika hipertrofi sudah berat dapat dilakukan konkotomi.

Untuk gejala yang berat dan lama serta bila terapi lain tidak memuaskan, dilakukan imunoterapi melalui desensitisasi dan hiposensitisasi atau netralisasi.
Read more...

Jumat, 06 Mei 2011

Sinusitis Kronik

0 komentar
Sinusitis kronik umumnya sukar disembuhkan dengan terapi medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan predisposisinya.

A. Etiologi dan Patogenesis
Polusi bahan kimia, alergi, dan defisiensi imunologik menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan ini mempermudah terjadinya infeksi. Terdapat edema konka yang mengganggu drainase sekret, sehingga silia rusak, dan seterusnya. Jika pengobatan pada sinusitis akut tidak adekuat, maka akan terjadi infeksi kronik.

B. Manifestasi Klinis
Gejala subyektif bervariasi dari ringan sampai berat, seperti:
o Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan nasofaring (post nasal drip). Sekret di nasofaring secara terus-menerus akan menyebabkan batuk kronik.
o Gejala faring, berupa rasa tidak nyaman di tenggorok.
o Gejala telinga, berupa gangguan pendengaran akibat sumbatan tuba Eustachius.
o Nyeri kepala, biasanya pada pagi hari dan berkurang di siang hari. Mungkin akibat penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus, serta stasis vena pada malam hari.
o Gejala mata, akibat penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
o Gejala saluran napas, berupa batuk dan kadang komplikasi di paru.
o Gejala saluran cerna, dapat terjadi gastroenteritis akibat mukopus yang tertelan.

Hasil pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan di muka. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikrobiologik biasanya menunjukkan infeksi campuran bermacam-macam bakteri, kuman anaerob atau lebih sering ditemukan campuran dengan aerob. Untuk membantu menegakkan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, radiologi, pungsi sinus maksila, sinuskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologi, nasoendoskopi meatus medius dan meatus superior. Tomografi komputer diindikasikan untuk evaluasi sinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi, sinusitis dengan komplikasi, evaluasi preoperatif, dan jika ada dugaan keganasan. Mag­netic Resonance Imaging (MRI) lebih baik daripada tomografi komputer dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan sinusitis karena jamur, neoplasma, dan perluasan intrakranialnya, namun resolusi tulang tidak tergambar baik dan harganya mahal.

D. Penatalaksanaan
Terapi medikamentosa memiliki peran terbatas karena umumnya disebabkan obstruksi sinus yang persisten.
Diberikan terapi obat-obat simtomatis dan antibiotik selama 2-4 minggu untuk mengatasi infeksinya. Antibiotik dipilih yang mencakup anaerob, seperti penisilin V. Klindamisin, atau augmentin merupakan pilihan yang tepat bila penisilin tidak efektif Steroid nasal topikal seperti beklometason berguna sebagai antiinflamasi dan antialergi.

Untuk membantu memperbaiki drainase dan pembersihan sekret, dapat dilakukan pungsi atau antrostomi dan irigasi untuk sinusitis maksila, sedangkan untuk sinusitis etmoid, frontal, dan sfenoid dapat dilakukan pencucian Proetz. Dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 atau 6 kali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukosa sinus sudah ireversibel sehingga perlu dilakukan operasi radikal. Sinuskopi juga dapat dipakai untuk mengetahui apakah telah terjadi perubahan mukosa sinus.

Terapi radikal dilakukan dengan mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drainase sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc, sedangkan untuk sinus etmoid dilakukan etmoidektomi dari intranasal atau ekstranasal. Pada sinusitis frontal dilakukan secara intranasal atau ekstranasal (operasi Killian). Drainase sinus sfenoid dilakukan secara intranasal.

Perkembangan terakhir adalah Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi, sehingga mukosa sinus kembali normal.

Pada anak pemberian antibiotik jangka lama, dekongestan sistemik atau topikal, serta imunoterapi yang tepat merupakan dasar pengobatan sinusitis kronik.

E. Komplikasi.
Dengan penemuan antibiotik, komplikasi sinusitis menurun dengan nyata. Biasanya terjadi pada sinusitis akut atau kronik dengan eksaserbasi akut.

Osteomielitis dan abses superiostal paling sering pada sinusitis frontal dan sering pada anak-anak. Pada sinusitis maksila dapat timbul fistula oroantral.

Kelainan orbita terjadi akibat sinusitis paranasal yang berdekatan dengan orbita. Yang paling sering sinusitis etmoid. Penyebaran melalui tromboflebitis atau perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul adalah edema palpebra, selulitis orbita, abses orbita, dan trombosis sinus kavernosus.

Komplikasi berupa kelainan intrakranial, seperti meningitis, abses otak, dan trombosis sinus kavernosus dapat timbul.
Juga kelainan paru, seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis, yang disebut sebagai sinobronkitis. Dapat juga timbul asma bronkial.

Bila terdapat tanda-tanda komplikasi ini, maka pasien harus dirujuk dengan segera. Tanda bahaya lain adalah gejala sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid akut yang berat.

Bila gejala akut sinusitis tidak reda dengan pengobatan, terutama bila serangan timbul lebih dari 4-6 kali per tahun, gejala menetap di antara 2 serangan, dan diperkirakan ada masalah lain yang mendasarinya maka sebaiknya pasien juga dirujuk, karena mungkin diperlukan tindakan pembedahan.
Read more...

Sinusitis Subakut

0 komentar
A. Manifestasi Klinis
Sama dengan sinusitis akut, hanya tanda-tanda radang akutnya sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring.

B. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit tampak suram atau gelap.

C. Penatalaksanaan
Mula-mula diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik yang berspektrum luas, atau yang sesuai dengan resistensi kuman, selama 10-14 hari. Juga obat-obat simtomatis berupa dekongestan lokal (obat tetes hidung) untuk memperlancar drainase, selama 5-­10 hari, karena bila terlalu lama dapat menyebabkan rinitis medikamentosa. Dapat pula diberikan analgesik, antihistamin,dan mukolitik.

Bila perlu dapat dilakukan diatermi. Diatermi dilakukan dengan sinar gelombang pendek sebanyak 5-6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Jika belum membaik, dilakukan pencucian sinus. Pada sinusitis maksila, dapat dilakukan tindakan pungsi, irigasi, atau antrostomi, yaitu lubang di meatus inferior yang menghubungkan hidung dengan sinus maksila. Pada sinusitis etmoid, frontal, dan sfenoid yang letak muaranya di bawah, dilakukan tindakan pencucian sinus cara Proetz, yang prinsipnya membuat tekanan negatif dalam rongga hidung dan sinus paranasal.

Tindakan intranasal lain yang mungkin perlu dilakukan agar drainase sekret lancar berdasarkan kelainan yang ada pada pasien adalah operasi koreksi septum, pengangkatan polip, dan konkotomi total atau parsial.
Read more...

Sinusitis Akut

0 komentar

Sinusitis adalah radang sinus paranasal. Bila terjadi pada beberapa sinus, disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai seluruhnya disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena adalah sinus maksila kemudian etmoid, frontal, dan sfenoid. Hal ini disebabkan sinus maksila adalah sinus yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, dasarnya adalah dasar akar gigi sehingga dapat berasal dari infeksi gigi, dan ostiumnya terletak di meatus medius, di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga sering tersumbat.
Menurut Adams, berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas:
o Sinusitis akut, bila infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu,
o Sinusitis subakut, bila infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan ,
o Sinusitis kronik, bila infeksi beberapa bulan sampai beberapa tahun (menurut Cauwenberge, bila sudah lebih dari 3 bulan).

Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel, dan kronik bila perubahan tersebut sudah ireversibel, misalnya menjadi jaringan granulasi atau polipoid.

A. Etiologi
Penyebabnya dapat virus, bakteri, atau jamur. Menurut Gluckman, kuman penyebab sinusi­tis akut tersering adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae yang ditemukan pada 70% kasus.

Dapat disebabkan rinitis akut; infeksi faring, seperti faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut; infeksi gigi molar Ml, M2, M3 atas, serta premolar Pl, P2; berenang dan menyelam; trauma; dan barotrauma.

Faktor predisposisi obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, benda asing di hidung, tumor, atau polip. Juga rinitis alergi, rinitis kronik, polusi lingkungan, udara dingin dan kering.

B. Manifestasi Klinis
Dari anamnesis biasanya didahuiui oleh infeksi saluran pernapasan atas (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.

Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik, yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal, yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain. Pada sinusitis maksila, nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus, hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Pada sinusitis etmoid, nyeri di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri di bola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis. Pada sinusitis frontal, nyeri terlokalisasi di dahi atau di seluruh kepala. Pada sinusitis sfenoid, rasa nyeri di verteks, oksipital, retro orbital, dan di sfenoid.

Gejala obyektif, tampak pembengkakan di daerah muka. Pada sinusitis maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis etmoid jarang bengkak, kecuali bila ada komplikasi.

Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, frontal, dan etmoid anterior tampak mukopus di meatus medius. Pada sinusitis etmoid posterior dan pada sfenoid, tampak nanah keluar dari meatus superior.

Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).

Pada anak dengan demam tinggi (>39°C), ingus purulen, dan sebelumnya menderita infeksi saluran napas atas, patut dicurigai adanya sinusitis akut, terutama jika tampak edema periorbital yang ringan. Khusus pada anak-anak, gejala batuk lebih hebat di siang hari tetapi terasa sangat mengganggu pada malam hari, kadang disertai serangan mengi.

Keluhan sinusitis akut pada anak kurang spesifik dibandingkan dewasa. Anak sering tidak mengeluh sakit kepala dan nyeri muka. Biasanya yang terlibat hanya sinus maksila dan etmoid.

C. Pemeriksaan Penunjang
Transiluminasi adalah pemeriksaan termudah, meskipun kebenarannya diragukan. Terutama berguna untuk evaluasi penyembuhan, dan pada wanita hamil, untuk menghindari bahaya radiasi. Bermakna bila hanya salah satu sisi sinus sakit, sehingga tampak lebih suram dibandingkan sisi yang normal. Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda positif + untuk normal sampai +++ untuk suram. Dilakukan untuk sinus maksila dan sinus frontal. Untuk sinus maksila, lampu dimasukkan ke dalam mulut dan bibir dikatupkan, pada sinus normal tampak gambaran bulan sabit yang terang di bawah mata. Untuk sinus frontal, lampu diletakkan di sudut medial atas orbita dan terlihat gambaran cahaya di dahi.

Pemeriksaan foto rontgen yang dibuat, yaitu posisi Waters, posteroanterior (PA), dan lateral. Dengan posisi ini maka pada sinusitis akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa dan gambaran air fluid level.

Dapat dilakukan pemeriksaan kultur kuman dan uji resistensi dari sekret rongga hidung.

D. Diagnosis Banding
Rinitis atrofi, karsinoma hidung, dan benda asing di rongga hidung

E. Penatalaksanaan
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik selama 10-14 hari, namun dapat diperpanjang sampai semua gejala hilang. Pemilihannya hampir selalu empirik karena kultur nasal tidak dapat diandalkan dan aspirasi sinus maksila merupakan kontra indikasi. Jenis amoksisilin, ampisilin, eritromisin, sefaklor monohidrat, asetit sefuroksim, trimetoprim-sulfametoksazol, amoksisilin-asam klavulanat, dan klaritromisin telah terbukti secara klinis. Jika dalam 48-72 jam tidak ada perbaikan klinis, diganti dengan antibiotik untuk kuman yang menghasilkan beta laktamase, yaitu amoksisilin atau ampisilin dikombinasi dengan asam klavulanat.

Diberikan pula dekongestan untuk memperlancar drainase sinus. Dapat diberikan sistemik maupun topikal. Khusus yang topikal harus dibatasi selama 5 hari untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. Dekongestan sistemik yang sering digunakan hanya dua jenis, yaitu pseudoefedrin dan fenilpropanolamin. Efek sampingnya adalah stimulasi susunan saraf pusat dan kardiovaskular, serta peningkatan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi yang labil. Sebaiknya jangan diberikan sebagai dosis malam hari dan kurangi dosis beberapa jam sebelum tidur.

Pemberian antihistamin pada sinusitis akut purulen tidak dianjurkan, karena merupakan penyakit infeksi dan dapat menyebabkan sekret menjadi kental dan menghambat drainase sinus.

Bila perlu, diberikan analgesik untuk menghilangkan nyeri; mukolitik untuk mengencerkan sekret, meningkatkan kerja silia, dan merangsang pemecahan fibrin.

Pemberian steroid intranasal, antara lain beklometason, flunisolid, dan triamsinolon, kadang diperlukan untuk mengurangi edema di daerah kompleks osteomeatal, terutama bila dicetuskan oleh alergi. Hanya efektif bila mencapai daerah drainase sinus dan memerlukan waktu pemakaian 1-2 minggu sebelum ada efek klinis. Kadang diperlukan steroid sistemik untuk meningkatkan respon klinis pada terapi, namun harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Dapat dilakukan irigasi nasal dengan NaCl untuk membantu pemindahan sekret kental dari sinus ke rongga hidung. Jarang dikerjakan pada anak kecuali jika terapi antibiotik tidak berhasil atau terancam komplikasi sinusitis.

Pada sinusitis akut, mukosa sinus masih reversibel, sehingga dapat diharapkan sembuh. Tindakan yang diambil ialah tindakan konservatif, kecuali jika ada komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau nyeri yang hebat akibat tertahannya sekret oleh sumbatan, sehingga perlu dirujuk untuk dilakukan tindakan bedah.
Read more...

Rinitis Atrofi

0 komentar
Rinitis atrofi adatah suatu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progresif tulang dan mukosa konka. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan sekret kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta berbau busuk. Sering mengenai masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi lemah dan lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas.

A. Etiologi
Belum jelas. Beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok, streptokok, dan Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.

B. Manifestasi Klinis
Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Pada pemeriksaan THT ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi, sekret purulen hijau, dan krusta berwarna hijau.

C. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan transiluminasi, foto sinus paranasal, pemeriksaan mikroorganisme dan uji resistensi kuman, pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Fe serum, dan serologi darah. Dari pemeriksaan histopatologi terlihat mukosa hidung menjadi tipis, silia hilang, metaplasia torak bersilia menjadi epitel kubik atau gepeng berlapis, kelenjar berdegenerasi dan atrofi, jumlahnya berkurang, dan bentuknya mengecil.

D. Penatalaksanaan
Belum ada yang baku. Penatalaksanaan ditujukan untuk menghilangkan etiologi, selain gejalanya. Dapat dilakukan secara konservatif atau operatif. Secara konservatif dapat diberikan:
1. Antibiotik berspektrum luas atau sesuai uji resistensi kuman sampai gejala hilang.
2. Obat cuci hidung agar bersih dari krusta dan bau busuk hilang dengan larutan Betadine satu sendok makan dalam 100 cc air hangat atau :
NH4Cl
NaHCO3
NaCl aaa 9
Aqua ad 300
Satu sendok makan larutan tersebut dicampur 9 sendok makan air hangat, atau dengan larutan garam hangat (garam dapur). Larutan dimasukkan ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat atau yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Dilakukan 2 kali sehari.
3. Vitamin A 3 x 50.000 unit selama 2 minggu
4. Preparat Fe
5. Pengobatan sinusitis, bila terdapat sinusitis.

Bila pengobatan konservatif adekuat yang cukup lama tidak menunjukkan perbaikan, pasien dirujuk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung. Prinsipnya mengistirahatkan mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga menjadi normal kembali selama 2 tahun. Atau dapat dilakukan implantasi untuk menyempitkan rongga hidung.
Read more...

Rinitis Vasomotor

0 komentar
Gangguan vasomotor hidung adalah terdapatnya gangguan fisiologi lapisan mukosa hidung yang disebabkan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis. Gejalanya mirip dengan rinitis alergi, tetapi bukan suatu reaksi alergi atau inflamasi:

A. Etiologi
Belum diketahui, diduga akibat gangguan keseimbangan vasomotor. Keseimbangan va­somotor ini dipengaruhi berbagai hal :
o Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, klorpromazin, obat antihipertensi, dan obat vasokonstriktor lokal.
o Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi, dan bau yang merangsang.
o Faktor endokrin, seperti kehamilan, pubertas, dan hipotiroidisme.
o Faktor psikis, seperti cemas, tegang.

B. Patofisiologi
Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetilkolin, sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan saraf simpatis mengakibatkan sebaliknya.

C. Diagnosis Banding
Rinitis alergi.

D. Manifestasi Klinis
Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Namun pada golongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak.

E. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret kulit tetapi jumlahnya sedikit. Tes kulit biasanya negatif.

F. Penatalaksanaan
Dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Terapi bervariasi, tergantung faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara umum, terbagi atas:
o Menghindari penyebab
o Pengobatan simtomatis, dengan obat dekongestan oral, diatermi, kauterisasi konka yang hipertrofi dengan nitras argenti 25% atau triklorasetat pekat. Dapat juga diberikan kortikosteroid topikal, misalnya budesonid, dengan dosis 2 x 100-200 mg, dapat ditingkatkan sampai 400 mikrogram sehari. Hasil akan terlihat setelah 2 minggu. Atau kortikosteroid topikal dalam larutan aqua seperti flutikason propionat, dengan dosis 1 x 200 mg.
o Operasi, dengan bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior.
o Neurektomi nervus vidianus sebagai saraf otonom mukosa hidung, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Operasinya tidak mudah dan komplikasinya cukup berat.

G. Prognosis
Golongan obstruksi lebih baik daripada golongan rinore.
Read more...